Filosofi Eksistensialisme dan Kecemasan: Memanfaatkan Kebebasan Mutlak untuk Menciptakan Diri Sendiri
Di jantung krisis identitas modern, sering kali terletak sebuah kebenaran yang tak terhindarkan: manusia dikutuk untuk bebas. Filosofi Eksistensialisme, yang mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-20 melalui karya-karya Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir, berpendapat bahwa “eksistensi mendahului esensi.” Artinya, kita tidak dilahirkan dengan tujuan atau sifat bawaan; kita pertama-tama ada, dan kemudian kita mendefinisikan diri kita melalui pilihan dan tindakan. Kebebasan mutlak untuk menciptakan diri sendiri ini, betapapun membebaskannya, juga menimbulkan apa yang disebut eksistensialis sebagai Angst—kecemasan mendalam yang muncul dari kesadaran bahwa kita bertanggung jawab penuh atas setiap keputusan kita. Memahami dan menerima kecemasan ini adalah langkah krusial dalam menerapkan Filosofi Eksistensialisme secara konstruktif.
Inti dari kecemasan eksistensial adalah pengakuan bahwa, tanpa esensi yang ditetapkan oleh Tuhan atau alam, kita sendirian dalam memilih. Filsuf Jean-Paul Sartre (1905–1980) menyebut kondisi ini sebagai “keterasingan” (forlornness) dan “keputusasaan” (despair). Keterasingan muncul karena tidak ada pedoman etika eksternal, memaksa kita untuk membuat hukum bagi diri sendiri. Keputusasaan muncul karena hasil dari pilihan kita bergantung pada probabilitas dan faktor di luar kendali kita. Misalnya, seseorang yang memilih menjadi seorang seniman bertanggung jawab atas pilihan itu, tetapi tidak dapat menjamin kesuksesannya. Kecemasan ini adalah bukti dari kebebasan itu sendiri.
Bagi eksistensialis, satu-satunya cara untuk mengatasi kecemasan bukanlah menghilangkannya, melainkan dengan hidup dalam keautentikan (authenticity). Ini berarti menghadapi kebebasan kita secara langsung dan menolak apa yang Sartre sebut ‘itikad buruk’ (mauvaise foi). Itikad buruk adalah pelarian dari kebebasan, sering kali dengan bersembunyi di balik peran sosial (“Saya hanya seorang karyawan,” “Saya harus melakukan ini karena budaya”), atau menyalahkan takdir. Filosofi Eksistensialisme mendesak kita untuk mengakui bahwa, bahkan ketika kita menolak membuat pilihan, kita tetap membuat pilihan—yaitu, memilih untuk tidak memilih. Mengakui tanggung jawab ini mengubah kecemasan dari sumber kelumpuhan menjadi katalisator tindakan.
Penerapan ajaran ini memiliki manfaat yang diakui dalam psikologi modern. Sebuah laporan dari Jurnal Psikologi Humanistik pada November 2024 menyoroti bahwa terapi yang berfokus pada nilai-nilai eksistensial membantu klien yang mengalami krisis quarter-life untuk mengubah kecemasan mereka menjadi motivasi yang terarah. Klien didorong untuk melihat keputusan hidup (misalnya, karir atau hubungan) bukan sebagai tujuan yang harus “ditemukan,” tetapi sebagai materi mentah yang digunakan untuk “menciptakan” siapa mereka.
Pada akhirnya, Filosofi Eksistensialisme mengajarkan kita bahwa kecemasan adalah harga yang harus dibayar untuk menjadi manusia yang benar-benar bebas. Dengan berani menerima tanggung jawab atas kebebasan mutlak kita, kita dapat memanfaatkan kecemasan sebagai sinyal untuk hidup secara lebih otentik, memahat identitas kita melalui setiap pilihan yang kita buat, hingga hari terakhir, misalnya, 18 April 2050, tiba.
